Kamis, 17 April 2014

BANGSA SAPI PERAH


BANGSA-BANGSA SAPI PERAH


1. FRIES HOLLAND (HOLSTEIN FRIESIAN)
            holstein-friesian-1          holstein-friesian-3
                                    holstein-friesian-2        
Sapi Fries Hollands atau disebut juga FH berasal dari negara Belanda Utara dengan kriteria sebagai berikut :
a)       Bulu sapi FH pada umumnya bewarna hitam dan putih, namun ada juga yang bewarna merah dan putih dengan batas-batas warna yang jelas.
b)       Pada dahi umumnya terdapat warna putih berbentuk segitiga.
c)       Kaki bagian bawah dan bulu ekornya bewarna putih.
d)       Tanduknya pendek dan menjurus kedepan.
e)       Sifat-sifatnya tenang dan jinak, sehingga mudah dikuasai. Tidak tahan panas, tetapi lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.
f)        Lambat dewasa.
g)       Bobot badan Ideal sapi FH betina dewasa seitar 682 kg dan jantan dewasa sekitar 1000 kg.
h)       Produksi susu sapi FH di Indonesia rata-rata 10 liter/ ekor per hari atau lebih kurang 30.050 kg per laktasi.
i)         Kadar lemak susu FH 3,65% dengan rata-rata 7.245 kg per laktasi di Amerika Serikat.
j)        Bobot anak sapi FH yang baru dilahirkan mencapai 43 kg.
2. YERSEY
            jersey-1          jersey-3
               jersey-4              jersey-2
Bangsa Sapi ini terbentuk di Pulau Yersey yang terletak di selat Channel antara Prancis dan Inggris. Nenek moyang dari sapi Jersey adalah sapi liar Bos (Taurus) Typicus Longifrons yang kemudian dikawin silangkan dengan sapi di Paris dan Normandia (Prancis).
Kriteria sapi Yersey sebagai berikut :
a)       Pada betina warna coklat muda, kadang-kadang ada yang hampir putih atau kuning dan ada pula yang agak merah.
b)       Yang jantan warnanya agak lebih tua.
c)       Tanduk menjurus ke atas dengan ukuran sedang, lebih panjang dari pada FH.
d)       Umumnya warna lidah hitam.
e)       Badan sapi Jersey  memiliki badan paling kecil diantara bangsa sapi perah lainnya.
f)        Berat badan : sapi jantan 625 kg, sapi betina 425 kg.
g)       Produksi susu : 2500 liter per laktasi dengan kadar lemak susu yang tinggi 4,85% .
h)       Memiliki sifat nerveous atau gelisah dan bereaksi cepat terhadap rangsangan. Dengan kata lain sapi yersey tidak begitu jinak, tetapi lebih tahan panas.
i)         Cepat menjadi dewasa.
3. GUERNSEY
guernsey-1          guernsey-3
            guernsey-21          guernsey-4
Sapi Guernsey berasal dari sapi liar sub-spesies Bos (Taurus) Typicus longifrons di pulau Guernsey. Terletak disebelah barat laut pulau yersey, di selat Channel.


Kriteria sapi Guernsey :
a)       Warna bulu cokelat bercak putih. Warna putih tersebut umumnya terdapat pada bagian sisi perut dan keempat kakinya.
b)       Bentuk badan agak kasar dibandingkan sapi Yersey.
c)       Tanduknya agak menjurus ke atas dan agak ke depan dan ukuran sedang.
d)       Berat badan : sapi jantan 700 kg, sapi betina 475 kg.
e)       Produksi susu 2750 liter per laktasi, biasanya diolah menjadi mentega.
f)        Bangsa sapi Guernsey bersifat agak jinak.
g)       Cepat menjadi dewasa, tetapi sedikit lambat dari Yersey.
4. HISSAR (GIR)
Sapi Hissar banyak dijumpai sebagai tenaga penarik dan penghasil susu di daerah Sumatra bagian Utara. Sapi Hissar (Gir)  dapat memproduksi susu rata-rata 2,6-3,0 liter per hari, dengan massa laktasi 200 hari atau 7 bulan.
5. PERANAKAN FRIES HOLLAND (PFH)
Sapi PFH telah terkenal dengan nama sapi Grati. Karena sapi tersebut terjadi dari persilangan antara bangsa-bangsa sapi asli Indonesia (Jawa atau Madura) dengan sapi FH, dimana darah FH nampak lebih menonjol di daerah Grati (Jawa Timur). Kriteria sapi PFH : Menyerupai FH dengan, produksi lebih rendah dan badannya pun lebih kecil.
6. BROWN SWISS
            brown-swiss-1              brown-swiss-2
            brown-swiss-3              brown-swiss-4
Bangsa sapi Brown Swiss adalah bangsa sapi perah tertua yang berasal dari spesies sapi liar sub-spesies Bos (Taurus) Typicus Longifrons yang berasal dari lereng-lereng gunung di Swiss.
Kriteria sebagai berikut :
a)       Warna bulu cokelat abu-abu muda atau tua, pada umumnya coklat seperti warna tikus.
b)       Hidung, bulu ekor bewarna hitam.
c)       Bobot badannya terberat kedua setelah sapi FH. Dengan berat badan : sapi jantan 970 kg, sapi betina 630 kg.
d)       Sifat-sifatnya : jinak dan mudah dipelihara.
e)       Produksi susu rata-rata 5.939 per laktasi.
f)        Susu sapi Brown Swiss biasanya diolah menjadi keju.
g)       Kadar lemak susu sapi Brown Swiss rendah.
7. RED DANISH
Sapi Red Danish memiliki kriteria sebagai berikut :
a)      Merupakan sapi perah berbadan besar.
b)      Badan bewarna merah.
c)      Pernah dikembangkan melalui IB (Inseminasi Buatan) di pulau Madura, tetapi hasilnya tidak banyak diketahui.

8. AYRSHIRE
            ayrshire-1                        ayrshire-2
            ayrshire-3                        ayrshire-41
Bangsa sapi Ayrshire terbentuk di Ayr yang terletak di barat daya Skotlandia. Nenek moyang sapi Ayrshire adalah Bos (Taurus) Typicus Primigenius dan Bos (Taurus) Typicus Longifrons.
Kriteria sapi Ayrshire adalah :
a)      Warna bulu bervariasi, mulai dari belang merah dan belang coklat.
b)      Tanduk agak panjang dan menjurus ke atas sedikit lurus dengan kepala.
c)      Sifatnya agak tenang.
d)     Badan sapi Aryshire lebih besar dari sapi Guernsey dan Yersey.
e)      Bobot badan betina 545 kg, jantan 841 kg dan bobot saat lahir 34 kg.
f)       Produksi susu : 350 liter per laktasi.
g)      Mencapai kedewasaan seperti sapi Guernsey.



9. MILKING SHORTHORN
            milking-shorthorn-11           milking-shorthorn-2
            milking-shorthorn-3               milking-shorthorn-4
Sapi Milking Shorthorn termasuk bangsa sapi tertua dan terbentuk di Inggris bagian timur laut di lembah Sungai Thames. Nenek moyang sapi ini adalah bos (Taurus) Typicus Premigenius. Awal mulanya sapi ini dikenal  sebagai bangsa sapi tipe dwiguna ( perah dan pedaging). Pada tahun 1969 peternak pembibit di Amerika Serikat bangsa sapi ini hanya digunakan sebagai sapi perah.  
Keriteria sapi ini sebagai berikut :
a)      Warna bervariasi dari hampir putih sampai merah semua, dan ada yang bewarna campuran merah dan putih.
b)      Tipenya adalah tipe perah dan pedaging.
c)      Bobot badan ideal jantan 955 kg, berat pada saat lahir 34 kg
d)     Produksi susunya 5.126 kg per laktasi
e)      Kadar lemak susunya 3,65%

10. DEVON SELATAN
Sapi Devon Selatan dikembangkan dibagian Selatan Devonshire, Inggris. Devon Selatan memiliki kriteria sebagai berikut :
a)      Warna bulunya kekuning-kuningan.
b)      Tipe dwiguna (tipe pedaging dan tipe perah).
c)      Pertumbuhannya cepat.
d)     Produksi susu tinggi.
e)      Mengalami kesulitan dalam melahirkan, tetapi dapat menghasilkan anak sapi yang bertumbuh dengan baik.
11. SAHIWAL
                        sahiwal-1     sahiwal-2
                        sahiwal-3     sahiwal-4
Sapi Sahiwal berasal dari India. Sapi ini merupakan tipe perah dari tropis yang terbaik didaerah asalnya.
Kriteria sapi tersebut sebagai tersebut :
a)      Warnanya coklat kemerahan atau coklat muda, kadang-kadang terdapat warna putih.
b)      Potongan atau bentuk tubuh berat.
c)      Kaki pendek.
d)     Bulunya sangat halus.
e)      Ambing besar dan kadang-kadang bergantung.
f)       Persentase lemaknya 3,7% .
12. RED SINDHI
            red-sindhi-1  red-sindhi-2
            red-sindhi-3       red-sindhi-4
Sapi ini berasal dari India. Dalam segala hal hampir sama dengan Sahiwal tetapi dengan ukuran yang lebih kecil.
Kriteria sapi tersebut sebagai berikut :
a)      Bobot sapi betina dewasa 300-350 kg, jantan dewasa 400-454 kg.
b)      Bobot anak sapi betina baru lahir 18-20 kg, anak sapi jantan yang baru lahir 21-24 kg.
c)      Produksi rata-rata untuk satu masa laktasi 1.662 atau berkisar 5-6 liter per hari.
d)     Kadar lemaknya 4,9%.
13. AUSTRALIAN MILKING ZEBU (AMZ)
Sapi ini merupakan hasil silang antara sapi Sahiwal, Red Sindhi, dan sapi Yersey. Sapi ini mengandung darah sapi Zebu 20-40% dan Yersey 60-80%.
Kriteria dari sapi AMZ ini adalah :
a)      Warna bulu dominan kuning emas sampai coklat kemerah-merahan.
b)      Produksi susu rata-rata 7 liter per hari dengan kisaran produksi susu 1.445-2.647 kg per 330,5 hari. namun ada yang berproduksi hingga 4.858 kg per 330,5 hari atau 16 liter per hari.

SELEKSI PADA TERNAK

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seleksi merupakan salah satu yang paling penting di dalam kehidupan, baik pada manusia, ternak dan makhluk hidup lainnya.
Setiap makhluk hidup dalam keadaan apapun selalu melakukan seleksi dimulai dari makhluk yang baru lahir sampai pada kehidupannya yang terakhir.
Seleksi pada umumnya terdiri dari seleksi alam dan seleksi buatan. Yang membedakan antara  seleksi alam dengan seleksi buatan yaitu kalau seleksi alam terjadi dengan sendirinya sedangkan seleksi buatan terjadi karena ada ikut campur tangan manusia dalam proses seleksi tersebut.

B. Tujuan Penulisan
  1. Untuk memperdalam pengetahuan mengenai seleksi.
  2. Untuk mengetahui perbedaan antara seleksi alam dengan seleksi buatan.
  3. Untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Ilmu Pemuliaan Ternak pada semester II ini.



II. TINJAUAN PUSTAKA
A.   Perngertian Seleksi
Seleksi adalah satu alat yang penting dalam merubah frekuensi gen guna menghasilkan individu-individu yang lebih baik untuk keperluan tertentu.
Seleksi dapat didefinisikan sebagai salah satu proses dimana individu-individu tertentu dalam satu populasi lebih disukai dari yang lainnya untuk menghasilkan generasi berikutnya.
B.   Seleksi Alam
Seleksi alam dapat digambarkan dengan mempertimbangkan ekologi beberapa spesies hewan liar. Misalnya, hubungan antara serigala dengan Dali atau Domba gunung di Taman Nasional McKinley di Alaska.
Seleksi alam adalah proses yang sangat rumit, dan banyak factor yang menentukan proporsi individu yang akan bereproduksi.diantara factor-faktor ini adalah perbedaan tingkat kematian individu dalam populasi, terutama pada awal kehidupan; perbedaan lamanya periode aktivitas seksual; derajat aktivitas seksual itu sendiri; dan perbedaan derajat fertilitas individu.  
C.   Seleksi Buatan
Seleksi buatan adalah seleksi yang dilakukan oleh manusia. Hal ini dapat didefinisikan sebagai upaya manusia untuk meningkatkan frekuensi dari gen-gen atau kombinasi gen yang disukai dalam kelompok ternaknya untuk keperluan pembiakan dari semua individu yang memiliki penampilan paling baik atau memiliki kemampuan untuk menghasilkan turunan berpenampilan paling baik apabila dilakukan perkawinan dengan individu-individu dari galur atau bangsa lain.















III. HASIL DAN PEMBAHASAN
I.      Seleksi Ternak
Penampakan ekspresi potensi ternak secara mendasar dipengaruhi oleh dua faktor utama yang saling terkait satu dengan yang lainnya, yakni : faktor genetic dan lingkungan termasuk didalamnya manajemen pemeliharaan secara menyeluruh.
Telah diketahui bahwa lingkungan dan penanganan manajemen yang memadai atau sesuai dengan kebutuhan ternak tidak akan memberikan ekpresi produksi (kualitas maupun kuantitas) yang diharapkan jika tidak didukung dengan potensi genetic ternak yang baik. Begitu pula sebaliknya jika ternak memiliki potensi genetic yang baik tidak akan terekspresikan secara optimal bila tidak didukung oleh lingkungan dan manajemen yang maksimal.  Dengan demikian kedua faktor tersebut hendaknya memperoleh perhatian yang sama seriusnya dalam pemeliharaan komoditas temak yang dilakukan.
Pemeliharaan ternak yang mempunyai nilai genetk tinggi disertai dengan manajemen yang baik tentunya akan memberikan hasil yang optimal baik dari segi produksi dan efisiensi usaha. 
II.   Sistem Seleksi
Seleksi adalah istilah dalam pemilihan ternak yang menggambarkan proses pemilihan secara sistimatis ternak-ternak dari suatu populasi untuk dijadikan tetua generasi berikutnya.

Pada dasarnya seleksi dibagi menjadi dua bentuk yakni:
a. Seleksi Alam Yaitu pemilihan hewan atau ternak menjadi tetua untuk generasi selanjutnya, yang dilakukan oleh alam. Seleksi alarn yang berlangsung beratus tahun akan menghasilkan ternak yang mempunyai daya adaptasi dengan. Lingkungan alarn sekitar yang berlaku setempat.
b.  Seleksi Buatan Seleksi yang dilakukan oleh manusia dengan tujuan   tertentu.
Seleksi buatan selanjutnya dapat dibedakan menjadi :
(a). Seleksi Individual (Mass Selection)
Yaitu seleksi untuk ternak bibit yang didasarkan pads catatan produkti fitas masing-masing ternak. Seleksi individual pada ternak sapi adalah cara seleksi yang paling sederhana dan mudah dilakukan di pedesaan dengan dasar bobot sapih anak sapi yang ada dan sebagainya.
(b). Seleksi Kekerabatan (Family Selection)
Yaitu seleksi individu atas dasar performans kerabat-kerabatnya (misalnya saudara tiri sebapak atau saudara kandung). Seleksi kerabat dilakukan untuk memilih calon pejantan sapi perah dengan tujuan untuk meningkatkan produksi susu  yang tidak dapat diukur pada ternak sapi jantan, dengan mengukur produksi kerabat-kerabat betinanya yang menghasilkan susu.

(c). Seleksi Silsilah (Pedigree Selection)
Seleksi yang dilakukan berdasarkan pada silsilah seekor ternak. Seleksi ini dilakukann untuk memilih ternak bibit pada  umur muda, sementara hewan muda tersebut belum dapat menunjukkan sifat-sifat produksinya. Pemilihan Bibit Ternak (contoh : ternak kambing/domba).
 Pemilihan bibit ternak bertujuan untuk memperoleh bangsa-bangsa ternak yang memiliki sifat-sifat produktif potensial seperti memiliki persentase kelahiran anak yang tinggi, kesuburan yang tinggi, kecepatan tumbuh yang baik serta ppersentasi karkas yang baik dan sebagainya. Kriteria-kriteria yang biasa dipergunakan sebagai pedoman dalarn rangka melaksanakan seleksi atau pemilihan bibit ialah : bangsa ternak, kesuburan dan persentase kelahiran anak, temperamen dan produksi susu induk, produksi daging dan susu, recording dan status kesehatan temak tersebut.
1. Bangsa
Pemilihan jenis ternak misalnya (kambing/domba) yang hendak diternakan biasanya dipilih dari bangsa ternak kambing/domba unggul
2. Kesuburan dan persentase kelahiran anak yang tinggi
Seleksi calon induk maupun pejantan yang benar jika dipilih dan turunan yang beranak kembar dan mempunyai kualitas kelahiran anak yang baik.

3. Temperamen dan jumlah produksi susu induk
Induk yang dipilih hendaknya sebaiknya memiliki temperamen yang baik, mau merawat anaknya serta selalu siap untuk menyusui anaknya.
4. Penampilan Eksterior
Penampilan eksterior ternak bibit harus menunjukkan kriteria yang baik untuk bibit baik ternak jantan maupun betinanya (induk). Untuk memberikan penilaian keadaan atau penampilan eksterior dapat dilakukan dengan melakukan perabaan/pengukuran ataupun pengamatan.
III.           Penilaian Ternak Setelah di Potong
Definisi :
  1. Karkas Ruminansia adalah bagian dari ternak ruminansia yang didapatkan dengan cara disembelih secara halal dan benar, dikuliti, dikeluarkan darahnya, dikeluarkan jeroan, dipisahkan kepala, kaki mulai dari tarsus/karpus ke bawah, organ reproduksi dan ambing, ekor serta lemak yang berlebih kecuali yang telah diawetkan dengan cara lainmelalui pendinginan yang telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI)sehingga lazim dan layak dikonsumsi oleh manusia.
  2. Karkas Unggas adalah bagian dari ternak unggas yang telah disembelih secara halal, dicabuti bulunya, dikeluarkan jeroan dan lemak abdominalnya, dipotong kepala danleher serta kedua kaki atau cekernya.
  3. Karkas Babi adalah bagian dari ternak babi yang disembelih setelah dikerok bulunya  dan dikeluarkan isi rongga perut dan isi rongga dada.
  4. Daging adalah bagian dari karkas yang didapatkan dari ternak yang disembelih secarahalal (kecuali babi) dan benar serta lazim, layak, dan aman dikonsumsi manusia, yangterdiri dari potongan daging bertulang atau daging tanpa tulang lainnya kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain daripada pendinginan, termasuk daging variasi dandaging olahan.
  5. Daging Variasi (variety meats, fancy meats, co-products) adalah bagian dari ternak yang didapatkan dengan cara disembelih secara halal dan benar selain karkas, kulit dan darah, yang dapat dikonsumsi oleh manusia, kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain daripada pendinginan.
  6. Daging Olahan adalah daging yang diproses dengan cara atau metoda tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan yang dilakukan secara halal, dan benar serta lazim, layak, dan aman dikonsumsi oleh manusia.
  7. Daging Untuk Pakan Hewan adalah daging yang tidak layak dikomsumsi oleh manusia dan hanya diperuntukkan bagi pakan hewan.
  8. Jeroan (edible offal) adalah bagian dari dalam tubuh hewan yang berasal dari ternakruminansia yang disembelih secara halal dan benar serta dapat, layak, dan amandikonsumsi oleh manusia, kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain daripada pendinginan.

Dipasaran terdapat beragam daging yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat konsumen, tips ini dapat membantu konsumen untuk memilih daging dengan ragam dan kualitasnya.
Daging Anak Sapi/Sapi Muda
·      daging-anaksapiPada Umumnya agak pucat, kelabu putih, sampai merah pucat dan menjadi tua
·      Terdiri dari serabut-serabut halus
·      Konsistensi agak lembek
·      Bau dan rasa berbeda dengan daging sapi dewasa
Daging Sapi Dewasa
·      daging-sapi-dewasaDaging merah pucat
·      Berserabut halus dengan sedikit lemak
·      Konsistensi liat
·      Bau dan rasa aromatis
Daging Domba
·      daging-dombaDaging terdiri dari serabut halus
·      Warna merah muda, konsistensi cukup tinggi
·      Banyak lemak di otot
·      Bau sangat khas
§  Lemak berwarna putih



Daging Kambing
·      daging kambingDaging lebih pucat dari daging domba
·      Lemak menyerupai lemba domba
·      Daging kambing jantan berbau khas
Daging Babi
·      daging babiDaging umumnya pucat hingga merah muda
·      Otot punggung yang mengandung lemak umumnya kelihatan kelabu putih
·      Serabut halus konsistensi padat dan berbau spesifik
Daging Kerbau
·         Pada umumnya liat karena disemblih pada umur tua
·         Serabut otot kasar dan lemaknya putih
·         Rasanya hamper sama dengan daging sapi
Daging Ayam
·      daging ayamWarna daging putih pucat
·      Bagian otot dada dan otot paha kenyal
·      Bau agak amis sampai tidak berbau


IV.            Kriteria Kualitas Daging
Kualitas daging dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik pada waktu hewan masih hidup maupun setelah dipotong. Pada waktu hewan hidup, faktor penentu kualitas dagingnya adalah cara pemeliharaan, yang meliputi pemberian pakan, tata laksana pemeliharaan dan perawatan kesehatan. Kualitas daging juga dipengaruhi oleh pengeluaran darah pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi sesudah hewan dipotong.
Kualitas Daging yang Baik
Keempukan atau Kelunakan. Keempukan daging ditentukan oleh kandungan jaringan ikat. Semakin tua usia hewan, susunan jaringan ikat semakin banyak, sehingga daging yang dihasilkan semakin liat. Jika ditekan dengan jari, daging sehat akan memiliki konsistensi kenyal (padat).
Kandungan lemak atau marbling. Marbling adalah lenak yang terdapat diantara serabut otot (intramuscular). Lemak berfungsi sebagai pembungkus otot dan mempertahankan keutuhan daging pada waktu dipanaskan. Marbling berpengaruh terhadap citra rasa daging.
Warna. Warna daging bervariasi, tergantung dari jenis secara genetik dan usia, misalnya daging sapi potong lebih gelap daripada daging sapi perah, daging sapi muda lebih pucat daripada daging sapi dewasa.
Rasa dan Aroma. Cita rasa dan aroma dipengaruhi oleh jenis pakan. Daging yang berkualitas baik mempunyai rasa yang relatif gurih dan aroma yang sedap.
Kelembaban. Secara normal daging mempunyai permukaan yang relatif kering sehingga dapat menahan pertumbuhan mikroorganisme dari luar. Dengan demikian mempengaruhi daya simpan daging tersebut.














IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.   Kesimpulan
1.  Seleksi dapat didefinisikan sebagai salah satu proses dimana individu-individu tertentu dalam satu populasi lebih disukai dari yang lainnya untuk menghasilkan generasi berikutnya.
2.     Seleksi alam adalah proses yang sangat rumit, dan banyak factor yang menentukan proporsi individu yang akan bereproduksi.diantara factor-faktor ini adalah perbedaan tingkat kematian individu dalam populasi, terutama pada awal kehidupan; perbedaan lamanya periode aktivitas seksual; derajat aktivitas seksual itu sendiri; dan perbedaan derajat fertilitas individu.
3.     Seleksi buatan adalah seleksi yang dilakukan oleh manusia.

B.   Saran
Penulis mengharapkan untuk penulisan makalah selanjutnya agar lebih sempurna dari penulisan makalah ini, dan penulis berharap pada dosen pembimbing dan para pembaca agar memberikan kritikan dan saran yang membangun untuk penulisan yang kedepan.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.petrnk/seleksi pada ternak.2654876.com
<23 Mei 2009> 

http://www.petrnk/seleksi alam dan seleksi buatan.2654876.com
<01 Juni 2009>